Theologi
Pembebasan
Asghar Ali Engineer
dilahirkan dalam keluarga lingkungan Ortodoks Bohro pada tanggal 10 Maret 1939
di Sulumber, Rajastan (dekat Udaipur) India. Ayahnya Syeikh Qurban Husein.
Semenjak kecil Asghar Ali mendapat pendidikan dari ayahnya
mengenai Bahasa Arab, Tafsir, Hadits dan fiqh.
mengenai Bahasa Arab, Tafsir, Hadits dan fiqh.
Mencermati tahun kelahirannya dapat dipastikan kondisi
sosio-politik pada saat itu diwarnai ketegangan antara Hindu dan Muslim
dalam perebutan otoritas politik.
Menurut
Asghar Ali, Islam dating dengan semangat pembebasan, akan tetapi sepeninggalan
Nabi Muhammad, Islam kehilangan peran vitalnya. Salah satunya terlihat dalam
konsep teologinya. Teologi Islam yang pada awalnya dekat dengan keadilan social
dan ekonomi, mulai beralih ke masalah-masalah eskatologi dan masalah yang
bersifat duniawi, yang menurutnya dimulai pada masa muawiyah.
Asghar
Ali melihat Islam sebagai agama yang mengandung semangat pembebasan. Oleh
karena itu, Asghar mencoba untuk merevitalisasi nilai-nilai pembebasan Islam
dan merumuskan Islam sebagai teologi pembebasan.
Pada
masa Nabi Muhammad dulu, masyarakat Arab dikenal fanatic terhadap suku mereka,
dengan memandang rendah orang di luar kelompoknya. Selain itu perbudakan
merupakan sesuatu yang biasa. Tindakan Nabi memilih sahabat Bilal sebagai
mu’adin merupakan tindakan penyetaraan.
Pada
masi Nabi untuk pertama kalinya perempuan mendapat banyak hak yang sebelumnya
tak terbayangkan. Nabi menetapkan, perempuan bisa mewarisi, bisa mempunyai hak
milik sendiri, bisa minta cerai, dan menentukan dirinya sendiri.
Hal
mendasar yang dilakukan Engineer adalah berusaha memaknai kembali atau member
makna baru pada Islam untuk membebaskan manusia dari segala bentuk
ketertindasan, kedaliman, dan keterbelakangan lewat teologi pembebasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar