Laman

2016/12/18

ASGHAR ALI ENGINEER (1939-2013)


Theologi Pembebasan
Asghar Ali Engineer dilahirkan dalam keluarga lingkungan Ortodoks Bohro pada tanggal 10 Maret 1939 di Sulumber, Rajastan (dekat Udaipur) India. Ayahnya Syeikh Qurban Husein. Semenjak kecil Asghar Ali mendapat pendidikan dari ayahnya
mengenai Bahasa Arab, Tafsir, Hadits dan fiqh.
    Mencermati tahun kelahirannya dapat dipastikan kondisi sosio-politik pada saat itu diwarnai ketegangan antara Hindu dan Muslim dalam  perebutan otoritas politik.
            Menurut Asghar Ali, Islam dating dengan semangat pembebasan, akan tetapi sepeninggalan Nabi Muhammad, Islam kehilangan peran vitalnya. Salah satunya terlihat dalam konsep teologinya. Teologi Islam yang pada awalnya dekat dengan keadilan social dan ekonomi, mulai beralih ke masalah-masalah eskatologi dan masalah yang bersifat duniawi, yang menurutnya dimulai pada masa muawiyah.
            Asghar Ali melihat Islam sebagai agama yang mengandung semangat pembebasan. Oleh karena itu, Asghar mencoba untuk merevitalisasi nilai-nilai pembebasan Islam dan merumuskan Islam sebagai teologi pembebasan.
            Pada masa Nabi Muhammad dulu, masyarakat Arab dikenal fanatic terhadap suku mereka, dengan memandang rendah orang di luar kelompoknya. Selain itu perbudakan merupakan sesuatu yang biasa. Tindakan Nabi memilih sahabat Bilal sebagai mu’adin merupakan tindakan penyetaraan.
            Pada masi Nabi untuk pertama kalinya perempuan mendapat banyak hak yang sebelumnya tak terbayangkan. Nabi menetapkan, perempuan bisa mewarisi, bisa mempunyai hak milik sendiri, bisa minta cerai, dan menentukan dirinya sendiri.
            Hal mendasar yang dilakukan Engineer adalah berusaha memaknai kembali atau member makna baru pada Islam untuk membebaskan manusia dari segala bentuk ketertindasan, kedaliman, dan keterbelakangan lewat teologi pembebasan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar