Ijtihad dan Modernisasi Pendidikan Islam
Pengantar
Kondisi
dunia lslam pada saat kelahiran dan besarnya Muhammad Abduh sangat
memprihatinkan. Sebagian besar masyarakat islam pada masa itu melakukan taqlid
dan mengekor saja pada para ulama sehingga bisa dibilang Abduh hup pada masa
kejumudan. Dengn kondisi seperti itu membuat Muhammad Abduh bergerakuntuk melakukan Ijtihad
.Kejumudanumat
islam akan teselesaikan jika pendidikannya dibenahiterlebih dahulu. Modernisasi dalam pendidikan adalahagian
terpenting dari modernisasi sosial, ekonomi dan politik. Hal tersebut bermkna
bahwa untuk membangun danmembina masyarakat modern, maka pendidikan adalah
bagian yang sangat penting sebagai media transformasi nilai dan budaya maupun
pengetahuan.
Hidup dan Karya Muhammad Abduh
Muhammad Abduh lahir pada tahun 1849 M
(1265 H) di desa Mahallah Nasr, suatu perkampungan agraris termasuk Mesir Hilir
di provinsi Gharbiyah, tetai ada yang mengatakan bahwa dia lahir sebelum tahun
itu, disekitar tahun 1845 M. Ayahnya bernama
Abduh ibnu Hasan Khairillah,
mempunyai silsilah keturunan dengn
bangsa Turki dan ibunya Junainah bin Utsman Al Kabir, mempunyai keturunan
dengan Umar bin Khattab.
Orang
tuanya sangat memperhatikan terhadap pendidikan Muhammad Abduh. Ayahnya bahkan
mendatangkan seorang guru untuk mengajar Muhammad Abduh secara privat
dirumahnya untuk memberi pelajaran membaca dan menulis saat usia 10 tahun (1859
M). Kemudian masa-masa hidupnya ia dedikasikan untuk belajar pada pamannya,
Syekh Darwis Khadr di Tanta dan Al Azhar.
Pada tahun 1877 M studinya selesai di Al
Azhar dengan hasil yang sangat baik dan mendapat gelar alim dan kelulusannya mendapat gelar Darajah Al Tsani (amat baik). Kemudian dia diangkat menjadi dosen
ilmu kalam dan logika di Al Azhar. Selain itu, dia mengajar ilmu kalam,
sejarah, ilmu politik dan kesusateraan Arab di Universitas Darul Ulum.
Karya-karya Muhammad Abduh yang
terkenal adalah Risalah at-Tauhid, Nahj
Al Balaghah, The Theology of Unity, Tafsir Juz ‘Amma, dan karya
monumentalnya, Tafsir Al Mannar.
C.
Ijtihad
Umat
islam mengalami kejumudan (membeku, statis, berpegang teguh pada adat) tidak
mengehendaki perubahan dan tidak mau menerima perubahan ini yang menyebabkan
Muhammad Abduh menyerukan Anti Taqlid. Sikap ini pada gilirannya akan
melahirkan sikap antisipasi terhadap perkembangan sains moderen.
Dalam
hal berijtihad Muhammad Abduh menekankan hanya bagi orang-orang yang memiliki
pengetahuan dan kekuatan intelektual yang boleh melakukan ijtihad, orang awam
hendaknya mengikuti ulama yang mereka percaya dan mengikuti ulama salaf. Abduh
mengajak untuk membuka kembali pintu ijtihad, bahwa agama dan ilmu tidak ada
pertentangan. Al-Qur’an bukan hanya sesuai dengan ilmu pengetahuan tetapi juga
mendorong untuk mengembangkannya. Menurut Abduh, kita harus menggunakan akal
afar tidak taqlid, taqlid biasanya dipakai dalam ilmu fikih berkaitan dengan
orang yang tidak mengetahui langsung dalil-dalil agama lalu mereka mengikuti
saja praktek keberagamaannya pada orang-orang yang patut diteladani. Taqlid
sendiri tidak boleh dilakukan dalam bidang aqidah karena aqidah merupakan
kepercayaan batin terdalam yang berfungsi sebagai fondasi dalam beragama.
Aqidah
menempatkan akal pada posisi yang istimewa, hubungannya dengan aqidah dan
syari’at, akal dapat sampai pada pengetahuan bahwa Tuhan itu ada (Maujud)
bukti-buktinya adalah eksistensi alam raya ini. Akal dapat mengetahui yang baik
dan yang buruk, manfaat maupun yang mudhlarat. Meskipun keberadaan akal sangat
luhur dan dapat mengetahui beberapa hal, tetap membutuhkan sesuatu selainnya
sebagai sebagai sumber pengetahuan. Sesuatu itu adalah wahyu yang datang dari
Tuhan. Jadi wahyu turun untuk menyempurnakan akal. Menurut Abduh manusia
berbuat atas kemauannya sendiri namun daya, kemauan dan pengetahuan yang ada
pada manusia tidaklah sempurna. Artinya bahwa dalam menjalani hidup, kemauan
bebas manusia itu tidak mungkin berjalan sepenuhnya sesuai dengan apa yang
diinginkan, sebab ialah karena berbagai faktor yang berada diluar jangkauan
kekuasaannya. Kemampuan manusia dibatasi oleh kelemahan, maka berbuat bebas
disini masih terikat oleh nilai ketuhananan, bukan sebebas-bebasnya.
D.
Pendidikan
Abduh
adalah seorang yang peduli sekali dengan dunia pendidikan. Menurut Muhammad
Abduh bahasa arab perlu dihidupkan untuk itu metodenya perlu diperbaiki dan ini
kaitannya dengan metode pendidikan. Para peserta didik, menurut Abduh tidak
perlu menghabiskan waktu untuk membahas gramatika bahasa yang rumit dan
langsung saja membahas makna serta analisis yang mendalam dari teks pelajaran
yang dikaji.
Sawito
dalam bukunya yang berjudul Sejarah
Sosial Pendidikan Islam, mengatakan bahwa bagi Muhammad Abduh, yang harus
diperjuangkan dalam satu system pendidikan adalah pendidikan yang fungsional,
yang meliputi pendidikan universal bagi semua anak, laki-laki maupun perempuan.
Semuanya harus mempunyai dasar membaca, menulis, berhitung dan harus
mendapatkan pendidikan agama.
Dalam
pendidkan Abduh, siswa sekolah menengah haruslah mereka yang ingin mempelajari
syari’at, militer, kedokteran, atau ingin bekerja pada pemerintah, kurikulumnya
meliputi pengantar pengetahuan, seni logika, prinsip penalaran, teks tentang
dalil rasional, serta teks sejarah yang meliputi berbagai penaklukan dan
penyebaran islam. Latar belakang lahirnya ide-ide pendidikan Muhammad Abduh
disebabkan oleh faktor situasi sosial keagamaan dan situasi pendidikan yang ada
pada saat itu. Karena Muhammad Abduh beranggapan bahwa kejumudan pemikiran
telah merasuki berbagai bidang kehidupan seperti bahasa, syari’ah, akidah dan
sistem masyarakat.
Dalam
bidang pendidikan formal Muhammad Abduh mengarahkan pemikirannya kepada empat
hal, yaitu tujuan, kurikulum, metode pengajaran dan pemberian pendidikan pada
wanita. Untuk mengimbangi antara pengetahuan agama dan pengetahuan umum dia
memasukkan kurikulum ilmu-ilmu yang sebelumnya diabaikan seperti etika,
sejarah, geografi, matematika, aljabar dan ilmu ukur walaupun banyak perlawanam
pada kurikulum tersebut. Disinilah Abduh ingin menyampaikan tentang tujuan
pendidikan yaitu pendidikan agama dan umum yang berorientasi pada pencapaian
kebahagiaan melalui pendidikan jiwa dan kebahagiaan di dunia dengan pendidikan
akal.
Muhammad Abduh merumuskan kurikulum
pendidikan mulai dasar sampai atas, yaitu :
1. Tingkat Sekolah
Dasar
a. Membaca
b. Menulis
c. Berhitung
samapi dengan tingkat tertentu
d. Pelajaran
agama dengan bahan-bahan akidah menurut versi Ahl al-Sunnah, serta fikih dan akhlak yang berkaitan hal dan hara,
perbuatan-perbuatan bid’ah serta bahayanya dalam masyarakat.
e. Sejarah,
mencakup sejarah Nabi dan para sahabat, akhlak mereka yang mulia, serta jasa
mereka terhadap agama.
2. Tingkat
Menengah
a. Manthiq dan
dasar penalaran
b. Akidah yang
dikemukakan dengan pembuktian akal dan dalil-dalil yang pasti.
c. Fikih dan
Akhlak
d. Sejarah islam
yang menyangkut dengan sejarah Nabi, sahabat dan penaklukan-penaklukan yang
terjadi dalam beberapa abad sampai pada penaklukan kerajaan Usmaniah.
3. Tingkat Atas
Pelajaran agama ditingkat ini
adalah untuk golongan mereka yang akan menjadi pendidik yang disebutnya sebagai
golongan yang arif (Urafa’ al-ummat).
Pelajaran yang diberikan mereka mencakup.
a. Tafsir
b. Hadits
c. Bahasa Arab
dengan segala cabangnya
d. Akhlak dengan
pembahasan yang terinci sebagai yang diuraikan al-Ghazali dalam kitab Ihya’
Ulumuddin.
e. Ushul Fikih
f. Sejarah yang
termasuk di dalamnya sejarah Nabi dan sahabat yang diuraikan secara terinci.
Sejarah peralihan penguasa-penguasa islam, sejarah kerajaan Usmaniah dan
sejarah jatuhnya kerajaan islam ke tangan penguasa lain dengan menerangkan
sebabnya.
g. Retorika dan
dasar-dasar berdiskusi
h. Ilmu kalam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar